SKRIPSI
PENINGKATAN
HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNIK INSTALASI LISTRIK DENGAN MODEL
PEMBELAJARAN TALKING STICK SMK NEGERI 8 TEKNOLOGI JENEPONTO KABUPATEN
JENEPONTO
OLEH:
K
A M A L
10
2504 012
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
JURUSAN
PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS
TEKNIK
UNIVERSITAS
NEGERI MAKASSAR
NOVEMBER
2013
SKRIPSI
PENINGKATAN
HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNIK INSTALASI LISTRIK DENGAN MODEL
PEMBELAJARAN TALKING STICK SMK NEGERI 8 TEKNOLOGI JENEPONTO KABUPATEN
JENEPONTO
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Teknik Elektro
Fakultas Teknik
Universitas Negeri Makassar
OLEH:
KAMAL
10
2504 012
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
JURUSAN
PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS
TEKNIK
UNIVERSITAS
NEGERI MAKASSAR
NOVEMBER
2013
MOTTO
DAN PERSEMBAHAN
“Abbulo
Sibatang Accera sitongka-tongka”
( Tekad Yang Sama Dan Bersatu Dalam Prinsip )
(
Pari`ba Daeng Nyento )
Tak
ada yang mustahil sepanjang kita mau berusaha dan tetap berdoa untuk
mendapatkannya maka jangan pernah menyerah dan berputus asa dan apabila kau
telah mendapatkannya itu adalah nikmat yang telah tuhan berikan kepadamu
( Kamal )
Kupersembahkan
karya sederhana ini sebagai rasa hormat dan baktiku atas segala cinta, kasih
dan pengorbanan kedua orang tuaku, saudara saudaraku dan sahabat-sahabatku,
serta orang-orang yang menyayangiku.
Karena berkat
doa yang tulus dan semangat yang telah kalian berikan kepada anakmu ini
sehingga cita-cita ini dapat tercapai
Doa dan
ketulusanmu
telah menerangi
perjalanan hidupku
ABSTRAK
Kamal,
2013. Peningkatan
Hasil Belajar Siswa Teknik Instalasi Listrik Pada Mata Pelajaran Teknik
Instalasi Listrik Dengan Model Pembelajaran Talking Stick SMK Negeri 8
Teknologi Jeneponto Kabupaten Jeneponto. Skripsi Jurusan
Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar.
Pembimbing Sugeng A Karim dan Hasrul Bakri.
Penelitian
ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom
Action Research) yang bertujuan meningkatkan hasil belajar Teknik instalasi
listrik siswa kelas X Jurusan Teknik Ketenagalistrikan SMK Negeri 8 Teknologi
Jeneponto dengan penerapan Model pembelajaran talking stick. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Jurusan
Teknik Ketenagalistrikan SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto pada semester genap
tahun ajaran 2012/2013 yang terdiri dari 28 siswa. Penelitian ini dilaksanakan
dalam dua siklus yang terdiri dari empat kegiatan, yaitu : perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan/observasi dan refleksi. Pada siklus I dilaksanakan
selama empat kali pertemuan dan pada siklus dua dilaksanakan selama tiga kali
pertemuan pengumpulan data hasil belajar dilakukan dengan menggunakan lembar
observasi, tes akhir belajar pada siklus I dan tes hasil belajar pada akhir
siklus II. Data yang terkumpul dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.
Hasil analisis kuantitatif dari hasil belajar teknik instalasi listrik
menunjukkan bahwa jumlah siswa yang tergolong tuntas belajarnya pada siklus I
hanya 43% dan pada siklus II 93% atau
terjadi peningkatan sebesar 52%. Hasil analisis kualitatif menunjukkan
terjadinya peningkatan tingkat kehadiran siswa begitu pun pada saat guru
menjelaskan siswa yang memperhatikan telah mengalami peningkatan selama proses
pembelajaran teknik instalasi listrik dengan model pembelajaran talking stick dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
Kata kunci : Hasil
Belajar, Model Pembelajaran Talking stick
KATA PENGANTAR
Tiada kata yang pantas penulis ucapkan melainkan puji syukur
kehadirat Allah SWT karena atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga penyusunan skripsi yang berjudul
Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Teknik Instalasi Listrik
dengan Model Pembelajaran Talking Stick
SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto Kabupaten Jeneponto ini dapat diselesaikan untuk memenuhi salah satu
persyaratan guna memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Jurusan Pendidikan
Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Negeri Makassar.
Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini cukup banyak kesulitan yang
dihadapi, tetapi berkat usaha, kerja keras, dan keteguhan serta adanya bantuan yang
diberikan
oleh berbagai pihak sehingga kesulitan tersebut dapat diatasi. Oleh karena itu,
sepatutnyalah
penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada : kedua
orang tuaku dan saudara-saudaraku yang
selalu memberikan doa dan dukungannya kepada penulis. Kepada bapak Drs. Marsud Hamid M.Kes
selaku Ketua Jurusan Pendidikan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas
Negeri Makassar sekaligus
sebagai Penanggap II kepada bapak Zulhajji S.T.,M.T.
selaku penanggap I dan sekaligus sekertaris jurusan pendidikan teknik elektro, kepada
bapak Drs. Sugeng A. Karim, M.T. selaku pembimbing I, kepada bapak Hasrul Bakri
S.Pd.,M.T. selaku pembimbing II yang telah memberi
saran dalam penyusunan skripsi ini, kepada bapak Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd, selaku Rektor Universitas Negeri Makassar,
kepada bapak Prof. Dr. Husain Syam, M.P.T., selaku Dekan Fakultas Teknik universitas Negeri
Makassar, kepada bapak Dr. Abd. Muis Mappalotteng S.Pd., M.Pd.,M.T. selaku
Ketua Prodi Jurusan Pendidikan Teknik
Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar, kepada bapak Drs. M.
Arsyad M M.Pd selaku kepala sekolah SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto serta
guru-guru dan staf sekolah yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
melakukan penelitian di sekolah tersebut, serta rekan-rekan seperjuaganku
angkatan 2010 (Grounding) terimah kasih atas segala motivasi yang telah di
berikan, terkhusus kepada teman-teman dekatku Ical, Hendri Jamal S.Pd, Ilham
smile, Dedi S.Pd. dan dinda Sukmawati terima kasih atas segala dukungan dan
motivasinya selama ini juga kepada adik-adikku Arman, Erwin, dan Ahmad atas
bantuan motivasi dan hiburan yang telah diberikan kepada penulis dan kepada semua
pihak yang telah membantu penulis yang tidak sempat saya tulis satu persatu
pada lembaran ini.
Semoga
segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah
SWT, amin Akhirnya penulis berharap semoga dengan selesainya penulisan skripsi
ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Makassar, Juli 2013
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL ........................................................................................ i
ABSTRAK......................................................................................................... ii
PENGESAHAN
SKRIPSI................................................................................ iii
PERNYATAAN
KEASLIAN SKRIPSI.......................................................... iv
MOTTO
DAN PERSEMBAHAN..................................................................... v
KATA
PENGANTAR....................................................................................... vi
DAFTAR
ISI...................................................................................................... viii
DAFTAR
LAMPIRAN..................................................................................... x
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang ................................................................................ 1
B. Batasan
Masalah.............................................................................. 6
C. Rumusan
Masalah............................................................................ 6
D. Tujuan
Penelitian.............................................................................. 6
E. Manfaat
Penelitian........................................................................... 7
BAB
II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian
teori....................................................................................... 8
1. Definisi
Umum Pendidikan.......................................................... 8
2. Pengertian Belajar....................................................................... 9
3. Hasil
belajar.................................................................................. 13
4. Model
Pembelajaran..................................................................... 17
5. Model
Pembelajaran Kooperatif.................................................. 18
6. Model
pembelajaran Talking Stick................................................ 19
B. Kerangka
Pikir................................................................................. 22
C. Hipotesis
Tindakan.......................................................................... 24
BAB
III METODE PENELITIAN
A. Jenis
Penelitian................................................................................. 25
B. Lokasi
Dan Waktu Penelitian.......................................................... 27
C. Populasi
dan Sampel........................................................................ 27
D. Jenis
Tindakan.................................................................................. 27
E. Teknik Pengumpulan Data.............................................................. 31
F. Teknik
Analisis Data........................................................................ 31
G. Indikator
Keberhasilan..................................................................... 32
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Penelitian................................................................................ 33
B. Pembahasan.................................................................................... 50
DAFTAR
PUSTAKA................................................................................ 54
LAMPIRAN................................................................................................ 55
DAFTAR LAMPIRAN
NOMOR
LAMPIRAN JUDUL HALAMAN
LAMPIRAN
1 Daftar Hadir Siswa............................................................ 52
LAMPIRAN
2 Hasil Belajar Siswa pada siklus
I....................................... 53
LAMPIRAN
3 Hasil Belajar Siswa pada Siklus
II.................................... 54
LAMPIRAN
4 Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP)........................ 55
LAMPIRAN
5 Surat Keterangan Validasi................................................. 67
LAMPIRAN
6 Instrumen Penelitian......................................................... 68
LAMPIRAN
7 Kunci Jawaban ................................................................. 74
LAMPIRAN
8 Silabus............................................................................... 75
LAMPIRAN
9 Permohonan Judul Skripsi................................................. 83
LAMPIRAN
10 Permintaan Izin Pembimbing............................................. 84
LAMPIRAN
11 Lembar Pengesahan Proposal............................................ 85
LAMPIRAN
12 Lembar Persetujuan Pembimbing dan Penanggap............ 86
LAMPIRAN
13 Undangan Seminar Proposal ............................................ 87
LAMPIRAN
14 Lembar Pengesahan Revisi
Proposal................................. 88
LAMPIRAN
15 Surat Izin Penelitian ......................................................... 89
LAMPIRAN
16 Izin/Rekomendasi Penelitian
Pemerintah Propinsi Sul-sel 90
LAMPIRAN
17 Izin/Rekomendasi Penelitian
Pemerintah Kab. Jeneponto. 91
LAMPIRAN
18 Surat Keterangan Penelitian ............................................. 92
LAMPIRAN
19 Lembar Pengesahan Hasil
Penelitian ................................ 93
LAMPIRAN
20 Lembar Persetujuan Pembimbing dan Penanggap ........... 94
LAMPIRAN
21 Lembar Persetujuan Perbaikan Hasil Penelitian............... 95
LAMPIRAN
22 Undangan Seminar Skripsi ............................................... 96
LAMPIRAN
23 Pengesahan revisi ujian skripsi........................................... 97
LAMPIRAN
24 Surat Keterangan Bebas
Perpustakaan .............................. 98
LAMPIRAN
25 Surat Keterangan Bebas Laboratorium................................ 99
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Jika dilihat
dari aspek kualitas maupun kuantitas penyelenggaraan pendidikan sampai saat ini
masih merupakan suatu masalah yang paling menonjol dalam setiap usaha
pembaharuan sistem pendidikan nasional. Kedua masalah tersebut sulit ditangani
secara simultan sebab dalam upaya meningkatkan kualitas, masalah kuantitas
terabaikan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu tidak mengherankan bila masalah pendidikan tidak pernah
tuntas, termasuk di negara yang maju sekalipun.
Pemerintah telah melakukan upaya dalam mengatasi segala
masalah pendidikan. Upaya tersebut hampir mencakup semua
komponen pendidikan, misalnya pembaharuan kurikulum, pembaharuan proses belajar
mengajar, peningkatan kualitas guru, pengadaan buku pelajaran, pengadaan dan
penyempurnaan sarana dan prasarana belajar, penyempurnaan sistem penelitian,
penataan organisasi, manajemen pendidikan dan penerapan bimbingan belajar di
sekolah maupun di luar sekolah, serta berbagai usaha yang mengarah pada
pencapaian hasil pengajaran/pendidikan secara maksimal. Ini dimaksudkan agar para siswa yang memiliki
permasalahan dalam belajarnya dapat segera memperoleh bantuan atau bimbingan dalam kegiatan
belajar yang diperlukannya. Jadi, layanan bimbingan belajar sangat diperlukan
oleh semua orang yang sedang melakukan proses atau kegiatan belajar.
Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk
mengembangkan seluruh aspek kepribadian dan kemampuan manusia dalam
kebersamaannya baik yang berada di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Masalah pendidikan muncul bersama dengan keberadaan manusia, bahkan pendidikan
merupakan refleksi dari kebudayaan manusia. Melalui pendidikan, kebudayaan
manusia dari generasi ke generasi diwariskan. Seiring dengan perkembangan zaman
yang semakin maju maka manusia dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi. Ilmu pengetahuan hanya bisa diperoleh melalui pendidikan, baik
pendidikan formal maupun pendidikan informal (Depdikbud. 2003)
Siswa sebagai komponen dalam belajar dituntut untuk giat
agar mencapai hasil belajar yang baik. Keberhasilan belajar ditandai adanya
perubahan-perubahan pada diri siswa menjadi lebih baik. Perubahan itu antara
lain perubahan pola pikir, perasaan, pemahaman, dan tingkah laku secara umum.
Keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
intelegensi, minat, bakat, keadaan sosial ekonomi, perhatian orang tua, metode
mengajar, media, kurikulum, kesiapan, dan teman bergaul (Slameto, 2003).
Pendidikan yang
dilaksanakan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia (SDM) Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pemerintah
berupaya mewujudkannya antara lain dengan memperbaiki sistem pembelajaran
merefisi kurikulum, pengadaan sarana dan prasarana. Semua ini dilaksanakan
untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan, terutama
pendidikan di sekolah merupakan langkah awal peningkatan sumber daya manusia
(SDM). Peningkatan mutu dalam proses belajar mengajar merupakan upaya
peningkatan kualitas pendidikan, dimana sebagai konsekuensinya diharapkan mampu
meningkatkan prestasi belajar peserta didik ketingkat yang lebih baik dan
mempersiapkan generasi penerus bangsa agar dapat berkembang secara optimal (Depdikbud.
2003).
Penyelenggaraan
pendidikan yang berkualitas, efektif, hasil belajar yang baik dan memuaskan
adalah merupakan harapan guru, orang tua dan seluruh pihak yang terkait. Namun
pada kenyataannya harapan tersebut sering kali tidak terwujud, hal ini
disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain siswa itu sendiri, materi
pelajaran, guru dan orang tua, ataupun strategi belajar mengajar yang disiapkan
oleh guru belum sesuai. Paling tidak guru harus menguasai materi yang diajarkan
dan terampil dalam mengajarkannya sebab guru secara langsung mempengaruhi,
membina, dan mengembangkan keterampilan siswa agar menjadi manusia yang cerdas
terampil dan bermoral. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan
dasar yang diperlukan sebagai pembimbing sekaligus pengajar yang tercermin
dalam kompetensi guru (Djamarah, Bakri. 1995)
Guru sebagai
tenaga pengajar membimbing siswa secara langsung di kelas dan pihak sekolah
sebagai fasilitator dalam penyelenggaraan proses pembelajaran guru senantiasa
mengevaluasi sejauh mana hasil yang telah dicapai siswanya. Melihat begitu
besarnya peranan guru sebagai pendidik, maka guru diharapkan dalam menjalankan
tugasnya sehari-hari perlu melakukan penerapan metode, strategi, dan model
pembelajaran yang sesuai dalam proses belajar mengajar khususnya pada mata
pelajaran teknik instalasi listrik. Dalam menyiapkan suatu materi pelajaran
sampai pada saat pelaksanaannya, guru harus selektif menentukan strategi dan
model pembelajaran yang diterapkan. Dengan memiliki pengetahuan mengenai sifat
berbagai model pembelajaran, maka seorang guru akan lebih mudah menerapkan model
pembelajaran yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi siswa.
Berdasarkan
hasil observasi yang dilakukan di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto, guru
umumnya masih menggunakan metode ceramah dan belum menerapkan model-model
pembelajaran yang sesuai sebagai penunjang proses pembelajaran, termasuk dalam
pembelajaran teknik instalasi listrik. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa
hasil belajar siswa pada mata pelajaran teknik instalasi listrik belum sesuai
yang diharapkan dengan rata-rata nilai rapor yang diperoleh siswa 65. Informasi
ini diperoleh dari guru mata pelajaran yang ada di sekolah tersebut, bahwa
hasil belajar teknik instalasi listrik
masih terlihat belum maksimal.
Berdasarkan
hasil wawancara awal penulis dengan guru mata pelajaran teknik instalasi
listrik di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto, ditemukan bahwa pada umumnya siswa
bersifat pasif dalam mengikuti pelajaran, rata-rata interaksi dan minat siswa
terhadap mata pelajaran teknik instalasi listrik masih kurang jika di lihat
dari perolehan hasil belajar yang telah diperoleh, oleh sebab itu penulis
berniat menerapkan model pembelajaran talking stick dengan tujuan dapat
melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.
Adapun alasan
dipilihnya model pembelajaran talking stick dibandingkan model
pembelajaran lainnya ialah sebab model pembelajaran talking stick mudah
dimengerti arah pembelajarannya, selain itu siswa diberi waktu untuk
mempelajari isi materi yang telah diberikan oleh guru. Siswa dapat berdiskusi
terlebih dahulu dengan teman kelompoknya masing-masing mengenai isi materi yang
telah diberikan, sebelum guru memberikan pertanyaan pada kelompok yang mendapat
tongkat (stick).
Kelebihan dari
model pembalajaran talking stick dapat menguji kesiapan siswa dalam
belajar selain itu dapat melatih siswa membaca dan memahami isi materi
pelajaran dengan cepat dan akan membuat siswa lebih giat dalam mengikuti proses
belajar mengajar.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk
mengkaji sebuah penelitian yang berjudul “ Peningkatan Hasil Belajar Siswa
pada Mata Pelajaran Teknik Instalasi Listrik Dengan Model Pembelajaran Talking Stick Di SMK Negeri 8 Teknologi
Jeneponto.
B. Batasan Masalah
Adapun
batasan masalah dalam penelitian ini ialah penulis hanya meneliti peningkatan
hasil belajar siswa kelas X pada jurusan Teknik Ketenagalistrikan pada mata
pelajaran teknik instalasi listrik di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto sebab
dari observasi yang telah dilakukan peneliti, kelas yang masih rendah perolehan
hasil belajarnya khususnya pada mata pelajaran teknik instalasi listrik ialah
kelas X dengan rata-rata nilai rapor yang diperoleh siswa 65 sehingga peneliti
berniat menerapkan model pembelajaran talking stick pada siswa kelas X
pada jurusan Teknik Ketenagalistrikan pada mata pelajaran teknik instalasi
listrik di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto.
C.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: apakah
penerapan model pembelajaran talking stick dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas X di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto pada mata pelajaran
teknik instalasi listrik?
D. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini
ialah; untuk mengetahui besarnya peningkatan hasil belajar siswa kelas X pada
jurusan Teknik Ketenagalistrikan pada mata pelajaran teknik instalasi listrik di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto dengan
penerapan model pembelajaran talking stick.
E. Manfaat
Penelitian
Adapun
manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.
Bagi siswa, sebagai motivasi dan daya
tarik untuk dapat lebih giat dan aktif dalam mengikuti kegiatan belajar
mengajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.
2.
Bagi guru, sebagai bahan pertimbangan
untuk menerapkan model pembelajaran talking
stick dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
teknik instalasi listrik.
3.
Bagi sekolah, akan memberikan bahan
informasi untuk dapat meningkatkan hasil belajar dan proses belajar mengajar
khususnya pada mata pelajaran teknik instalasi listrik di SMK Negeri 8
Teknologi Jeneponto.
4.
Bagi peneliti, memperoleh pengalaman
secara langsung dalam penerapan salah satu model pembelajaran dan sebagai dasar
pengembangan bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti tentang pembelajaran
talking stick.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1.
Definisi umum Pendidikan
Pendidikan merupakan
kata yang tidak asing lagi bagi semua orang. Tujuan pendidikan nasional dalam
Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, "Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab’' Sektor utama yang mempunyai misi pokok untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa ialah sektor pendidikan baik dalam konteks
pendidikan formal, non formal, maupun informal
Pendidikan dalam arti luas berarti suatu proses untuk mengembangkan semua
aspek kepribadian manusia, yang mencakup pengetahuannya, nilai serta sikapnya,
dan keterampilannya. Pendidikan bertujuan untuk mencapai kepribadian individu
yang lebih baik. Hal pertama yang menuju keribadian yang lebih baik disebut pedagogic,
sedangkan yang kedua (yang merusak kepribadian anak) disebut demogogi (Salam,
Burhanuddin 2002).
Menurut Redja
Mudyahardjo, pendidikan dapat ditinjau dari dua aspek yaitu pendidikan dalam
arti luas dan pendidikan dalam arti sempit.
Pendidikan dalam arti luas yaitu: Pendidikan adalah hidup, Pendidikan
adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan
sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi
pertumbuhan individu. Sedangkan Pendidikan dalam arti sempit yaitu: Pendidikan
adalah sekolah, Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan di sekolah
sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah segala pengaruh yang
diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar
mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap
hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka.
Berdasarakan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa fokus pendidikan
adalah yang terjadi pada lembaga pendidikan formal yaitu sekolah. Pendidikan
dapat pula diartikan sebagai usaha sadar untuk menciptakan manusia yang
bermanfaat. Pendidikan ini akan mengantarkan manusia menuju kedewasaan hidup
sesuai kemampuan dan martabatnya sebagai manusia.
2. Pengertian Belajar
Salah satu langkah yang
harus ditempuh dalam pendidikan adalah belajar Terkadang seseorang sering menyuruh untuk belajar,
padahal dia tidak tahu arti dari belajar itu sendiri. Belajar ialah proses
perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan
penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan
kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman
yang terorganisasi (Darmawang, 2007).
Belajar
adalah suatu proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan, artinya
tujuan kegiatan belajar ialah perubahan
tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, dan
seluruh aspek pribadi. Kegiatan belajar mengajar seperti
mengorganisasi pengalaman belajar, menilai proses dan hasil belajar, termasuk
dalam tanggung jawab guru (Sabri, 2007)
Belajar adalah kegiatan
yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam
penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan (Muhibbin Syah, 2002). Ini
berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat
tergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika dia berada di
sekolah maupun di lingkungan keluarganya sendiri.
Definisi
tentang belajar dikemukakan oleh R.M. Gagne, yang dikutip dalam (Bego Ishak,
1988) bahwa belajar ialah perubahan disposisi atau kesanggupan yang berlaku
selama waktu tertentu yang tidak dapat dinyatakan sebagai proses dan yang tidak
dapat dinyatakan sebagai proses pertumbuhan. Belajar terjadi
bila seseorang menghadapi sesuatu yang di dalamnya tidak dapat menyesuaikan
diri dengan menggunakan bentuk-bentuk kebiasaan untuk menghadapi
tantangan-tantangan, atau apabila seseorang harus mengatasi rintangan-rintangan
dalam aktifitasnya. Belajar
merupakan tugas sehari-hari di sekolah. Belajar pada manusia merupakan suatu
proses psikologis yang berlangsung dalam interaksi aktif, subjek dengan
lingkungan menghasilkan perubahahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan
dan sikap yang bersifat menetap.
Dalam
proses tahapan belajar yang menyangkut perubahan tingkah laku atau perubahan
kejiwaan, Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau
langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan yang ditimbulkan
sehingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Jadi proses belajar
dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan
psikomotorik yang terjadi dalam diri siswa (Nasution, 1995).
Ada beberapa tahapan
dalam proses belajar yaitu;
a. Menurut
Jerome S. Bruner mengatakan
bahwa dalam proses belajar siswa menempuh
tiga tahap yaitu;
1) Tahap informasi (Tahap penerimaan
materi).
2) Tahap transformasi (tahap
perubahan materi).
3) Tahap evaluasi (tahap penilaian
materi).
b. Menurut
Arno F. Witing mengatakan bahwa
setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahapan yaitu:
1)
Acquisition
( tahap
penerimaan informasi).
2)
Storage
(tahap penyimpanan informasi)
3)
Retrieval
(tahap mendapatkan kembali informasi)
Untuk
mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pengertian belajar, dapat dilihat
beberapa para ahli yaitu :
a. Menurut Muhibbin Syah, (2006)
Belajar adalah Tahapan perubahan tingkah
laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi
dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
b.
Menurut
Syaiful Bakri Djamarah, (1995)
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah
laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.
c.
Menurut
Abdul Haling, (2006)
Belajar adalah
suatu proses kegiatan yang menimbulkan kelakuan baru atau merubah kelakuan lama
sehingga seseorang lebih mampu memecahkan masalah dan mnyesuaiakan diri
terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya.
d.
Menurut
Slameto, (2003)
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
e.
Menurut
Sahabuddin, (2007)
Belajar adalah sebagai suatu proses kegiatan yang
menimbulkan kelakuan baru atau mengubah kelakuan lama sehingga seseorang lebih
mampu memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang
dihadapi dalam hidupnya.
Berdasarkan pengertian belajar yang dikemukakan beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian
belajar secara umum ialah kegiatan yang menimbulkan kebiasaan baru yang dapat
merubah tingkah laku individu sehingga seseorang lebih mampu memecahkan masalah
dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya.
3. Hasil Belajar
Hasil
belajar menurut kamus bahasa indonesia diartikan sebagai kemampuan yang
dimiliki terkait dengan suatu bidang tertentu. kompetensi siswa dalam belajar
memuat tiga ranah atau aspek dasar yaitu : kognitif, efektif dan psikomotorik.
Ranah ini memiliki karakterisktik tersendiri yang dapat diukur dalam proses
pembelajaran yakni kognitif meliputi: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis,
sintesis dan evaluasi. Ranah efektif yakni: menerima, menanggapi, menilai,
mengorganisasi dan membentuk watak, Sedangkan psikomotorik dicirikan sebagai
berikut: meniru, menyusun, melakukan dengan sesuai prosedur, melakukan dengan
baik dan tepat, dan melakukan tindakan secara alami (Arikunto, 2007).
Hasil
belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang terjadi pada diri
seseorang yang melakukannya. Dimana interaksi di
dalam individu yang membawa perubahan sifat, tindakan, perbuatan, dan tingkah
laku. Unsur lingkungan pada hakikatnya berfungsi sebagai lingkungan belajar
yakni lingkungan tempat ia tinggal dan berinteraksi sehingga menumbuhkan
kegiatan belajar pada dirinya. Peningkatan hasil belajar ditentukan oleh
tingkat kemauan siswa untuk belajar secara bermakna dan terus-menerus.
Menurut Glaser terdapat
dua macam penilaian hasil belajar yaitu norm-referenced
dan criterion-referenced. Penilaian
yang norm-referenced didasarkan atas
penilaian murid dibandingkan dengan seluruh kelas, yang diutamakan ialah
kedudukan seorang siswa dibandingkan dengan norma kelompok, dalam hal ini yang
dipentingkan adalah perbedaan individual.
Menurut Oemar Hamalik,
(2009), evaluasi hasil belajar adalah
keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi)
pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat
hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam
upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Adapun
fungsi dan tujuan hasil belajar yhaitu menurut (Syaiful sagal, 2009)
a. Fungsi hasil belajar adalah sebagai berikut :
1) Untuk diagnostik dan
pengembangan. Hasil evaluasi menggambarkan kemajuan, kegagalan dan kesulitan
masing-masing siswa. Untuk menentukan jenis dan tingkat kesulitan siswa serta
faktor penyebabnya dapat diketahui dari hasil belajar atau hasil dari evaluasi
tersebut.
2) Untuk Hasil
evaluasi dapat digunakan dalam rangka menyeleksi calon siswa dalam rangka
penerimaan dan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Siswa yang lulus
seleksi berarti telah memenuhi persyaratan pengetahuan dan keterampilan yang telah ditetapkan, sehingga
yang bersangkutan dapat diterima pada suatu jenjang pendidikan tertentu.
3) Untuk
kenaikan kelas. Hasil evaluasi digunakan untuk menetapkan siswa mana yang
memenuhi rangking atau ukuran yang ditetapkan dalam rangka kenaikan kelas.
Sebaliknya siswa yang tidak memenuhi rangking tersebut dinyatakan tidak naik
kelas atau gagal, dan harus mengulangi program studi yang sama sebelumnya.
4) Untuk
penempatan. Para lulusan yang ingin bekerja pada suatu instansi atau perusahaan perlu menyiapkan transkrip program
studi yang telah ditempuhnya, yang juga memuat nilai-nilai hasil evaluasi
belajar. Pihak penerima biasanya memperhatikan daftar nilai tersebut sebagai
bahan pertimbangan mengenai tingkat kemampuan calon pegawai tersebut. Jadi
evaluasi hasil penilaian berfungsi menyediakan data tentang lulusan agar dapat
ditempatkan sesuai dengan kemampuannya.
5) Memberikan
informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendorong motivasi belajar
siswa dengan cara mengenal kemajuannya sendiri dan merangsangnya untuk
melakukan upaya perbaikan.
Menurut (Muhibbin Syah 2006) karakteristik perubahan
hasil belajar terbagi atas tiga yaitu :
a. Perubahan
intensional
Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau
praktek yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan
kebetulan. Karakteristik ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan
adanya perubahan yang dialami atau sekurang-kurangnya ia merasakan adanya
perubahan dalam dirinya.
b. Perubahan
positif - aktif
Perubahan yang terjadi karena proses belejar bersifat positif dan aktif.
Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan. Hal ini juga
bermakna perubahan tersebut senantiasa merupakan penambahan yakni diperolehnya
sesuatu yang baru yang lebih baik dari pada apa yang telah ada sebelumnya.
Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena
proses kematangan.
c. Perubahan
efektif – fungsional
Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni
berhasil guna. Artinya, perubahan tersebut membawa pengaruh, makna dan manfaat
tertentu bagi siswa. Selain itu, perubahan dalam proses belajar bersifat
fungsional dalam arti bahwa ia relatif menetap dan setiap saat apabila
dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan.
b. Tujuan hasil belajar
1) Memberikan
informasi tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan- tujuan belajar
melalui berbagai kegiatan belajar.
2) Memberikan informasi yang dapat digunakan
untuk membina kegiatan-kegiatan belajar siswa lebih lanjut, baik keseluruhan
kelas maupun masing-masing individu.
3) Memberikan
informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa, menetapkan kesulitan-kesulitannya dan
menyarankan kegiatan-kegiatan remedial (perbaikan).
4. Model
Pembelajaran
Istilah model diartikan
sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan
suatu kegiatan. Dalam pembelajaran istilah model diartikan sebagai kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisaikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Model berfungsi sebagai
pedoman bagi pembelajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar
(Anonym,
2005).
5. Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Davidson dan Warsham (dalam Isjoni, 2011) Pembelajaran kooperatif adalah model
pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan
pembelajaran yang berefektifitas yang mengintegrasikan keterampilan sosial yang
bermuatan akademik.
Slavin
(dalam Isjoni, 2011) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu
model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja sama dalam
kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6
orang dengan struktur kelompok heterogen. Jadi dalam model pembelajaran
kooperatif ini, siswa bekerja sama dengan kelompoknya untuk menyelesaikan suatu
permasalahan. Dengan begitu siswa akan bertanggung jawab atas belajarnya
sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang diberikan pada mereka. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan
pembentukan kelompok yang bertujuan untuk menciptakan pendekatan pembelajaran
yang efektif.
a.
Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif
Tujuan
model pembelajaran kooperatif menurut Widyantini (2006) adalah hasil belajar
akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari
temannya serta pengembangan keterampilan sosial.
Johnson
(dalam Trianto, 2010) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah
memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman
baik secara individu maupun secara kelompok. Louisell dan Descamps (dalam
Trianto, 2010) juga menambahkan, karena siswa bekerja dalam suatu tim, maka
dengan sendirinya dapat memperbaiki hubungan diantara para siswa dari latar
belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-keterampilan proses
dan pemecahan masalah. Jadi inti dari tujuan pembelajaran kooperatif adalah
untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa, dan memberikan
kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa
lainnya.
b. Prinsip Dasar Model Pembelajaran
Kooperatif memuat prinsip sebagai berikut:
1) Setiap anggota kelompok
bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya dan
berpikir bahwa semua anggota kelompok memiliki tujuan yang sama.
2) Dalam kelompok terdapat
pembagian tugas secara merata dan dilakukan evaluasi setelahnya.
3) Saling membagi kepemimpinan
antar anggota kelompok untuk belajar bersama selama pembelajaran.
4) Setiap anggota kelompok
bertanggung jawab atas semua pekerjaan kelompok.
Ciri-ciri
model pembelajaran kooperatif menurut Nur (dalam Widyantini, 2006) sebagai
berikut:
a
Siswa dalam kelompok bekerja sama menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b
Kelompok dibentuk secara heterogen.
c
Penghargaan lebih diberikan kepada kelompok, bukan kepada
individu.
Pada
model pembelajaran kooperatif memang ditonjolkan pada diskusi dan kerjasama
dalam kelompok. Kelompok dibentuk secara heterogen sehingga siswa dapat
berkomunikasi, saling berbagi ilmu, saling menyampaikan pendapat, dan saling
menghargai pendapat teman sekelompoknya.
6.
Model
Pembelajaran Talking Stick
Talking stick termasuk salah satu model
pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan
tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru
setelah siswa mempelajari materi yang diberikan.
Pembelajaran talking stick sangat cocok diterapkan bagi siswa, Selain
untuk melatih kemampuan berbicara, pembelajaran ini akan menciptakan suasana
yang menyenangkan dan membuat siswa aktif.
a. Dalam proses
belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran talking stik ada beberapa langkah-langkah yang dilakukan oleh guru
antara lain;
a)
Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5 orang.
b)
Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
c) Guru menyampaikan materi pokok
yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada setiap kelompok
untuk membaca dan mempelajari materi yang diberikan.
d)
Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
e) Setelah kelompok selesai membaca
materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok
untuk menutup isi bacaan.
f) Guru mengambil tongkat dan
memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi
pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus
menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian
untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
g) Siswa lain boleh membantu
menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya
tidak bisa menjawab pertanyaan.
h)
Guru memberikan kesimpulan.
i) Guru melakukan
evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu dan setelah itu
menutup pelajaran.
b.
Kelebihan model pembelajaran talking stick memuat kelebihan sebagai berikut:
1)
Menguji kesiapan siswa dalam belajar.
2)
Melatih siswa membaca dan memahami isi materi pelajaran dengan cepat.
3) Agar siswa lebih giat dalam belajar.
c. Kekurangan
model pembelajaran talking stick ialah
Walaupun penggunaan pembelajaran talking
stick sangat cocok di gunakan dalam proses belajar mengajar namun tetap
memiliki kekurangan yaitu membuat siswa
sedikit tertekan.
Standar Kompotensi dan
Kompotensi Dasar mata pelajaran teknik instalasi listrik
1. SK : Memasang instalasi penerangan listrik
bangunan sederhana
KD : 1) Memahami instalasi
penerangan1 fasa
2) Menggambar rancangan instalasi
penerangan
3) Memasang instalasi penerangan
4)
Memasang lampu penerangan, Termasuk instalasi di dalam armartur lampu.
5) Memahami
pemasangan instalasi tenaga listrik 1 fasa
2. SK : Memasang instalasi tenaga listrik bangunan
sederhana
KD : 1) Memasang instalasi tenaga di luar
permukaan
2) Memasang instalasi tenaga di dalam permukaan
3) Memasang kotak-kontak 1 fasa
3. SK
: Memasang instalasi bangunan bertingkat
KD : 1) Memahami instalasi penerangan 3 fasa
2) Menggambar rancangan instalasi
penerangan
3) Memasang panel hubung bagi
instalasi penerangan
4) Memasang instalasi kabel dan
pemipaan
B. Kerangka
Pikir
Pembelajaran talking
stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa, pembelajaran ini menggunakan sebuah tongkat
sebagai penunjang proses pembelajaran, kelompok yang mendapatkan tongkat dari guru akan diberi pertanyaan dan wajib untuk di
jawab, setelah itu tongkat tersebut diberikan kepada kelompok lain dan begitu
seterusnya. Selain itu kelebihan dari model pembelajaran ini dapat melatih
siswa dalam hal berbicara, menguji kesiapan siswa dalam belajar, dan melatih pemahaman siswa dengan cepat, dengan
diterapkannya model pembelajaran talking stick akan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa pada jurusan teknik ketenagalistrikan pada mata pelajaran
teknik instalasi listrik di SMK Negeri 8 teknologi Jeneponto.
Siswa dapat berdiskusi
membahas masalah yang terdapat di dalam materi, sehingga membuat siswa menjadi
lebih aktif. Model pembelajaran ini juga dapat menciptakan interaksi antara
guru dan siswa, dan siswa dengan siswa lainnya sehingga proses pembelajaran
menjadi lebih menyenankan serta dapat di pahami dengan baik.
|
TUJUAN
PENDIDIKAN NASIONAL
|
|
HASIL
BELAJAR
|
|
KOMPETENSI
|
|
METODE MENGAJAR
|
|
KURIKULUM
|
|
|
|
PROSES
BELAJAR MENGAJAR
|
|
KELAS X SEMESTER GENAP
|
|
SISWA
|
|
SISWA
|
Gambar.1. Bagan
Kerangka Pikir
C. Hipotesis
Tindakan
Berdasarkan kerangka pikir yang
telah diuraikan di atas maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai
berikut, Penerapan model pembelajaran talking stick dapat meningkatkan
hasil belajar siswa kelas X pada jurusan Teknik Ketenagalistrikan di SMK Negeri
8 Teknologi Jeneponto pada mata pelajaran teknik instalasi listrik.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
Penelitian
ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom
action research). Penelitian tindakan kelas yang khusus dimaksudkan untuk
memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian tindakan kelas
bukan penelitian eksperimen, dan bukan penelitian pengembangan. Oleh karena
itu, masalahnya ialah bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran dan
peningkatan hasil belajar dengan menggunakan metode, strategi, atau model
pembelajaran tertentu. Rumusan masalah itu dijawab dengan bukti-bukti, proses
dan hasil tindakan yang dilakukan.
Model
penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah model yang
ditawarkan oleh John Elliot. Model ini tampak lebih rinci, karena di dalam
setiap siklus memungkinkan terdiri dari beberapa tindakan . Sementara itu,
terdiri dari beberapa tahapan yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar
mengajar. Penelitian tindakan kelas yang ditawarkan oleh John Elliot terdiri
atas empat komponen dalam setiap siklusnya, yaitu perencanaan (planning),
pelaksanaan (execution),
pengamatan (observation), dan refleksi (reflek) yang dilakukan secara berulang
(Zainal, 2006).
Adapun
tahapan-tahapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
|
PELAKSANAAN
|
|
PENGAMATAN
|
|
SIKLUS 1
|
|
PERENCANAAN
|
|
REFLEKSI
|
|
REFLEKSI
|
|
PELAKSANAAN
|
|
PENGAMATAN
|
|
PERENCANAAN
|
|
SIKLUS 2
|
|
?
|
7
Gambar 2
Bagan Tahapan-Tahapan PTK Oleh John Elliot
B. Lokasi
dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto JL. Pendidikan (Kompleks
Sekolah Terpadu). Penelitian ini akan di laksanakan pada Januari – Agustus
2013.
C. Populasi dan Sampel
Populasi
dalam penelitian ini adalah siswa SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto yang terdiri
dari kelas X, XI dan XII dengan jumlah keseluruhan 20 kelas dari 6 jurusan yang berbeda.
Adapun
pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah siswa Jurusan Teknik
Ketenagalistrikan kelas X pada mata pelajaran teknik instalasi listrik di SMK
Negeri 8 Teknologi Jeneponto.
D. Jenis Tindakan
Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2012/2013 yang direncanakan dalam dua
siklus. Kedua siklus tersebut merupakan rangkaian yang saling berkaitan.
Artinya, setiap siklus dilaksanakan berdasarkan siklus sebelumnya dengan
mempelajari kekurangan pada siklus pertama. Siklus pertama berlangsung selama 4
kali pertemuan (8 jam pelajaran) dan siklus kedua selama 3 kali pertemuan (8
jam pelajaran).
Selanjutnya
di bawah ini akan diuraikan gambaran mengenai kegiatan yang dilakukan dalam
masing – masing siklus sebagai berikut:
1.
Gambaran Umum
Siklus I
Siklus pertama merupakan penerapan tindakan dari
model pembelajaran talking stick.
Adapun proses kegiatan dari siklus I ialah sebagai berikut:
a.
Perencanaan
1) Mengadakan observasi awal
2)
Menelaah kurikulum materi pelajaran teknik instalasi listrik di SMK Negeri 8
Teknologi Jeneponto.
3) Membuat skenario pembelajaran talking stick.
4)
Mengembangkan alat bantu pembelajaran berupa tongkat.
5)
Membuat tes hasil belajar untuk melihat berapa besar peningkatan hasil belajar
siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan
1) Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5
orang.
2) Guru menyiapkan sebuah tongkat yang
panjangnya 20 cm.
3)
Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan
kesempatan kepada setiap kelompok untuk membaca dan mempelajari materi yang
diberikan.
4) Siswa berdiskusi membahas
masalah yang terdapat di dalam wacana.
5)
Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru
mempersilahkan anggota kelompok untuk menutup isi bacaan.
6)
Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota kelompok,
setelah itu guru memberi pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat
tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa
mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
7)
Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak bisa menjawab pertanyaan.
8) Guru memberikan kesimpulan.
9)
Guru melakukan evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu dan
setelah itu menutup pelajaran.
b. Tahap Pengamatan (Observasi)
Pada tahap ini dilaksanakan
proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar
observasi yang telah dibuat. Selain itu, memberikan tes evaluasi hasil belajar
setelah 2 kali pertemuan pada siklus I yang telah disediakan. Jenis tes berupa
pilihan ganda yang terdiri atas item soal yang mewakili seluruh materi yang
telah dibahas. Menganalisis data hasil observasi dan tes untuk mengetahui skor
akhir yang diperoleh siswa setelah mengikuti beberapa kali pertemuan dengan
penerapan model pembelajaran talking stick.
c.
Tahap
Refleksi
Hasil yang diperoleh dari tahap
observasi dikumpulkan serta dianalisis dalam tahap ini, demikian pula dengan
tahap evaluasinya. Pada tahap ini dilakukan refleksi atau menelaah kembali penelitian
ini berdasarkan hasil observasi dan evaluasi selama proses pembelajaran
berlangsung. Melibatkan siswa dalam penelitian dengan meminta tanggapan mereka
mengenai proses pelaksanaan pembelajaran. Hal-hal apa menurut mereka yang perlu
ditingkatkan, baik segi model pembelajaran maupun teknik penyajian informasi
yang dilakukan oleh peneliti. Mendiskusikan hasil refleksi yang telah dibuat
bersama dengan observer yakni rekan-rekan guru mata pelajaran teknik instalasi
listrik. Berdasarkan hasil diskusi yang diperoleh, peneliti dapat merefleksi
diri dengan melihat sejauh mana faktor-faktor yang diselidiki pada data
observasi telah tercapai. Hal-hal yang masih belum berhasil pada siklus I akan
ditindak lanjuti pada siklus II dan hal-hal yang sudah dinggap benar dipertahankan.
2. Gambaran Umum Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi pada pelaksanaan tindakan
I, apabila terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki maka perlu untuk dilakukan
siklus II sebagai kelanjutan dari penyempurnaan dan perbaikan dari pelaksanaan
tindakan siklus I.
Siklus II selama 3 kali pertemuan (6 jam pelajaran).
Prosedur kegiatan pada siklus II realatif sama dengan prosedur kegiatan pada
siklus I. hal-hal yang belum berhasil pada siklus I akan diperbaiki pada siklus
II sehingga hasil yang dicapai pada
siklus II lebih maksimal dibandingkan pada siklus I. Adapun langkah-langkah
dalam siklus II diuraikan sebagai berikut :
1)
Merencanakan
tindakan akhir sebagai perbaikan dari siklus sebelumnya.
2)
Siswa lebih
diaktifkan dengan lebih banyak mengajukan pertanyaan tentang tugas yang akan
diberikan.
3)
Menambah
soal-soal latihan agar lebih cepat dipahami.
4)
Menganalisis
data hasil observasi dan evaluasi
5)
Mengadakan
refleksi akhir dari tindakan yang telah
dilakukan.
E. Teknik
Pengumpulan Data
Adapun
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini
adalah:
1. Lembar Observasi
Lembar observasi menggambarkan keseluruhan
aspek yang berhubungan dengan proses pembelajaran. Lembar observasi ini berisi
item-item yang akan diamati pada saat terjadi proses pembelajaran.
2. Tes Hasil Belajar
Tes merupakan suatu kegiatan untuk
mengukur keterampilan, pengetahuan, serta kemampuan yang dimiliki oleh individu
atau kelompok. Tes hasil belajar ini akan diperoleh dari setiap siklus untuk
melihat apakah terjadi peningkatan atau tidak, Sehingga dapat dijadikan sebagai
salah satu tolak ukur keberhasilan.
F. Teknik
Analisis Data
Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis
secara statistik deskriptif
yaitu sebagai berikut:
Statistik
deskriptif terdiri dari deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data hasil observasi dianalisis secara
kualitatif. Sedangkan data mengenai hasil belajar teknik instalasi listrik
dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan rumus:
a. Presentase
Keterangan:
P = Angka persentase.
f =
Frekuensi yang sedang dicari persentasenya
N = Jumlah frekuensi…………… (Anas Sudijono, 2004:43)
a.
Menghitung rata – rata
b.
Keterangan:
= Rata –
rata
∑ = Jumlah
x
= Nilai
N = Banyaknya data
Menurut Sudjana nana
(2006) analisis kuantitatif dapat digunakan teknik kategorisasi berdasarakan
tabel di bawah ini.
Tabel
Kategori Hasil Belajar
|
Interval Nilai
|
Kategori
|
|
90
- 100
61 - 80
41 - 60
21 - 40
0 – 20
|
Tinggi sekali
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat rendah
|
G. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dari penelitian ini ialah apabila
terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar teknik instalasi listrik
siklus I atau pada siklus II Perlakuan dianggap berhasil bila 80% siswa
mencapai skor minimal 75 dari hasil tes belajar yang telah dicapai.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Pada bab ini data yang diperoleh dianalisis dan
dibahas. Data tentang hasil belajar dianalisis secara kuantitatif berupa
persentase tingkat penguasaan materi yang diajarkan kepada siswa. Sedangkan
data tentang aktivitas siswa dianalisis secara kualitatif.
A. Hasil
Penelitian
Analisis tes hasil belajar dan analisis
masing-masing pelaksanaan tindakan pada setiap siklus dapat diuraikan sebagai
berikut:
1.
Hasil Penelitian pada Siklus I
a.
Hasil
belajar pada pelaksanaan tindakan siklus I.
Data
hasil kegiatan pembelajaran materi teknik instalasi listrik yang dianalisis
dengan statistik deskriptif. Gambaran hasil belajar siswa dijelaskan sebagai
beriku:.
Tabel 4.1
Statistik Skor Hasil Belajar
Teknik Instalasi Listrik Siswa Kelas X
Di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto pada Tes Akhir Siklus I
|
Statistik
|
Nilai
Statistik
|
|
Jumlah
sampel
Nilai
ideal
Nilai
tertinggi
Nilai
terendah
Skor
rata-rata
Standar
deviasi
|
28
100
95
40
69,64
14,84
|
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa skor
rata-rata hasil belajar siswa sebesar 69,64 skor terendah 40, sedangkan skor
tertinggi 95, dengan standar deviasi
14,84. Ini menunjukkan kemampuan siswa cukup bervariasi.
Apabila
skor hasil belajar siswa dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh
distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut :
Tabel 4.2
Distribusi, Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Belajar Teknik Instalasi Listrik Siswa Kelas X Di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto pada Tes Akhir Siklus I
|
Skor
|
Kategori
|
Frekuensi (f)
|
Persentase (%)
|
|
81 – 100
61 – 80
41 – 60
21 – 40
0 – 20
|
Tinggi sekali
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
|
4
8
10
6
0
|
15
29
35
21
0,0
|
|
Jumlah
|
28
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 4.2
di atas dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa yang mendapat kategori sangat
rendah tidak ada (0,0%), dan siswa yang mendapatkan kategori rendah sebanyak 6
siswa (21%), untuk kategori sedang sebanyak 10 siswa (35%) dan yang mendapatkan kategori tinggi sebanyak
8 siswa (29%). Sedangkan siswa yang mendapatkan kategori tinggi sekali sebanyak
4 siswa (14%). Hal ini berarti penyebaran skor yang diperoleh siswa kelas X
pada jurusan Teknik Ketenagalistrikan
merata dengan selisih perbedaan antara skor tinggi dan skor rendah tidak
terlalu besar Jika dilihat dari persentase tingkat penguasaan siswa terhadap
materi yang diajarkan pada siklus pertama.
Adapun persentase
ketuntasan hasil belajar siswa kelas X pada jurusan teknik ketenagalistrikan Di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto dapat
dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.3
Distribusi, Frekuensi dan persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa
Kelas X
pada Jurusan Teknik Ketenagalistrikan pada pokok bahasan Teknik Instalasi Listrik Siklus I
|
Nilai
|
Frekuensi
(f)
|
Persentase
(%)
|
Kategori
|
|
0 – 74
75 – 100
|
16
12
|
57
43
|
Tidak tuntas
Tuntas
|
|
Jumlah
|
28
|
100
|
|
Berdasarkan Tabel 4.3 di atas diperoleh data siswa yang
mendapatkan kategori tuntas sebanyak 12 orang siswa atau sebesar (43%),
sedangkan siswa yang memperoleh kategori tidak tuntas sebanyak 16 orang siswa
atau sebesar (57%) sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil tindakan pada siklus
I belum mencapai kreteria indikator keberhasilan tindakan. Oleh karena itu
kegiatan ini masih perlu dilanjutkan dengan mengadakan perbaikan-perbaikan
tertentu dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
b.
Hasil Refleksi Siklus I
Berdasarkan hasil tes
belajar pada siklus I diperoleh hasil belajar siswa sebanyak 16 orang (57%)
kategori tidak tuntas dan sebanyak 12 orang siswa (43%) kategori tuntas.
Berdasarkan hasil belajar tersebut maka perlu dilanjutkan penelitian siklus II
sebab hasil belajar yang diperoleh siswa kategori belum tuntas lebih besar
jumlahnya jika dibandingkan kategori tuntas. Disamping itu dalam pengamatan
peneliti ada beberapa kendala saat proses pembelajaran berlangsung salah
satunya masih banyak siswa yang belum percaya
diri dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan hasil
wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran yang bersangkutan Ada beberapa
hal yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran, agar siswa dapat
meningkatkan hasil belajarnya. Perbaikan yang dimaksud adalah :
1)
Setiap kelompok harus diberi tambahan
waktu dalam mempelajari materi yang diberikan oleh guru agar semua anggota
kelompok dapat lebih berhati-hati dalam membaca materinya sehingga dapat lebih
cepat dipahami.
2)
Guru harus mengurangi ketegangan siswa
pada saat pelaksanaan Tanya jawab tentang materi yang di sajikan agar semua
anggota kelompok lebih percaya diri dalam menjawab pertanyaan.
3)
Memotivasi siswa dengan cara memberikan
pujian dan penilaian yang tinggi bagi kelompok yang paling banyak menjawab
pertanyaan dengan benar, yang telah diberikan oleh guru.
2. Hasil
Penelitian Pada siklus II
a.
Hasil
belajar pada pelaksanaan tindakan siklus II
Tabel 4.4
Statistik Skor Hasil Belajar
Teknik Instalasi Listrik Siswa Kelas X Di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto pada
Tes Akhir Siklus II
|
Statistik
|
Nilai
Statistik
|
|
Jumlah
sampel
Skor
ideal
Skor
tertinggi
Skor
terendah
Skor
rata-rata
Standar
deviasi
|
28
100
96
42
84,14
10,93
|
Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa skor
rata-rata hasil belajar sebesar 84,14, skor terendah 42, sedangkan skor
tertinggi 96 dengan standar deviasi
10,93. Ini menunjukkan kemampuan siswa mengalami peningkatan.
Apabila
skor hasil belajar siswa dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh
distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut :
Tabel 4.5
Distribusi, Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil
Belajar Teknik Instalasi Listrik
Siswa Kelas X Di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto pada Tes Akhir
Siklus II
|
Skor
|
Kategori
|
Frekuensi (f)
|
Persentase (%)
|
|
81 – 100
61 – 80
41 – 60
21 – 40
0 – 20
|
Tinggi sekali
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
|
9
16
2
1
0
|
32,1
57,1
7,2
3,6
0,0
|
|
Jumlah
|
28
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 4.5
di atas dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa pada siklus II mengalami
peningkatan, siswa yang mendapat kategori sangat rendah tidak ada atau sebesar
(0,0%), dan siswa yang mendapatkan
kategori rendah sebanyak 1 orang siswa atau sebesar (3,6%), yang
mendapatkan kategori sedang sebanyak 2
orang siswa atau sebesar (7,2%), dan siswa yang mendapat kategori tinggi
sebanyak 16 orang siswa atau sebesar (57,1%) sedangkan siswa yang mencapai
kategori tinggi sekali sebanyak 9 orang siswa atau sebesar (32,1%). Hal ini menunjukkan penyebaran skor yang diperoleh siswa kelas X
pada jurusan Teknik Ketenagalistrikan mengalami peningkatan dengan selisih
perbedaan antara skor tinggi dan Skor rendah sangat besar perbedaannya Jika
dilihat dari persentase tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan
pada siklus II.
Adapun persentase
ketuntasan hasil belajar siswa kelas X pada jurusan teknik
ketenagalistrikan Di SMK Negeri 8
Teknologi Jeneponto dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.6
Distribusi, Frekuensi dan persentase Ketuntasan
Hasil Belajar Siswa Kelas X pada Jurusan Teknik Ketenagalistrikan pada
pokok bahasan Teknik Instalasi Listrik
Siklus II
|
Nilai
|
Frekuensi
(f)
|
Persentase
(%)
|
Kategori
|
|
0 – 74
75 – 100
|
2
26
|
7
93
|
Tidak tuntas
Tuntas
|
|
Jumlah
|
28
|
100
|
|
Berdasarkan Tabel 4.6 di atas diperoleh data siswa yang
tuntas sebanyak 26 orang atau sebesar (93%) sedangkan siswa yang mendapatkan
kategori tidak tuntas sebanyak 2 orang atau sebesar (7%).
b. Hasil
Refleksi Pada Siklus II
Adapun refleksi yang diperoleh pada siklus II adalah
sebagai berikut :
1)
Kehadiran
siswa meningkat, bahkan pada pertemuan terakhir ke 28 siswa hadir mengikuti tes
akhir siklus II Ini menunjukkan bahwa siswa mempunyai keinginan dan perhatian
dalam mengikuti pembelajarandan evaluasi.
2)
Siswa yang
memperhatikan guru saat menjelaskan meningkat di samping itu siswa sudah mampu
mengajukan diri untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.
3)
Berdasarkan
hasil tes siklus II, telah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan hasil
tes belajar siswa pada siklus I. Ini terlihat berdasarkan pengkategorian jumlah
siswa pada kategori tuntas pada siklus II sebanyak 26 orang siswa dengan
persentase sebesar 92,8 %, sedangkan hasil penelitian pada siklus I kategori tuntas sebanyak 12
orang siswa dengan persentase 42,8% sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil
penelitian pada siklus II telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kelas
X Jurusan Teknik Ketenagalistrikan pada mata pelajaran Teknik Instalasi Listrik
Di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto ini dibuktikan berdasarkan data hasil
penelitian pada siklus II.
c.
Data Hasil Observasi Aktivitas siswa pada Mata
Pelajaran Teknik Instalasi Listrik Dengan Penerapan Model Pembelajaran Talking
stick siklus I.
Tabel 4.7
Hasil
Observasi Aktivitas siswa Dalam Kelas Selama Mengikuti Proses Pembelajaran
Teknik Instalasi listrik Dengan Penerapan Model Pembelajaran talking stick pada
Siklus I.
|
No
|
Pengamatan
|
Frekuensi
Setiap
Pertemuan
|
||
|
I
|
II
|
III
|
||
|
1
|
Siswa yang hadir pada saat proses
pembelajaran berlangsung
|
28
|
27
|
28
|
|
2
|
Siswa yang
memperhatikan pada saat guru menjelaskan.
|
25
|
26
|
26
|
|
3
|
Siswa yang
aktif bertanya dan menjawab dari pertanyaan yang di ajukan guru.
|
5
|
8
|
10
|
|
4
|
Siswa yang aktif berinteraksi dengan temannya dalam menyelesaikan tugas
yang diberikan guru.
|
23
|
23
|
24
|
|
5
|
Siswa yang melakukan kegiatan lain
pada saat pembahasan materi pelajaran
|
3
|
2
|
2
|
|
6
|
Siswa yang masih perlu bimbingan dalam
mengerjakan soal
|
20
|
20
|
15
|
|
7
|
Siswa yang sering keluar masuk kelas
pada saat pembelajaran berlangsung
|
3
|
2
|
|
Dari tabel di atas dapat disimpulkan
bahwa:
1)
Pada pertemuan I siswa yang hadir saat
pelaksanaan proses pembelajaran sebanyak 28 siswa dari 32 siswa, berarti siswa
yang tidak hadir sebanyak 4 orang. Pada pertemuan II siswa yang hadir sebanyak
28 orang, berarti siswa yang tidak hadir sebanyak 4 orang. Pada pertemuan III
siswa yang hadir sebanyak 28 orang, berarti siswa yang tidak hadir sebanyak 4
orang. Dan pada pertemuan ke IV siswa yang hadir sebanyak 28 orang pada saat
akan diadakan evaluasi dari siklus I.
2)
Pada lembar observasi yang kedua dan
ketiga menunjukkan bahwa siswa yang memperhatikan saat guru menjelaskan materi
mengalami peningkatan dari setiap pertemuan. Pada pertemuan I sebanyak 25 siswa yang memperhatikan saat guru
menjelaskan materinya, kemudian mengalami peningkatan pada pertemuan II yaitu 27 orang siswa dan pada pertemuan III
kembali mengalami peningkatan yang sama yaitu 27 orang siswa.
3)
Siswa yang aktif bertanya dan menjawab
pertanyaan yang diajukan guru, pada pertemuan I sebanyak 5 orang. Pada
pertemuan II mengalami peningkatan menjadi 7 orang siswa. Dan pada pertemuan
III kembali meningkat menjadi 10 orang siswa.
4)
Siswa yang aktif berinteraksi dengan
temannya dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru pada setiap pertemuan,
pada pertemuan I sebanyak 23 siswa, Pada pertemuan II sebanyak 23 siswa dan
pada pertemuan III terjadi peningkatan sebanyak 24 orang siswa yang aktif
berinteraksi dengan temannya dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
guru.
5)
Siswa yang
melakukan kegiatan di luar proses pembelajaran seperti bermain, bercerita dan
lain-lain mengalami penurunan pada pertemuan II dan III. Pada pertemuan I, ada
3 orang siswa yang tidak memperhatikan pada saat guru menjelaskan.
6)
Siswa yang masih perlu bimbingan dalam
mengerjakan soal pada pertemuan I sebanyak 20 siswa, tidak beda dengan
pertemuan II sebanyak 20 siswa, sedangkan pada pertemuan III mengalami
penurunan sebanyak 15 siswa.
7)
Siswa yang sering keluar masuk kelas
pada saat pembelajaran berlangsung pada
pertemuan I sebanyak 3 orang siswa, pada pertemuan II mengalami penurunan
sebanyak 2 orang siswa, sedangkan pada
pertemuan III tidak ada siswa yang
keluar masuk kelas pada saat pembelajaran berlangsung.
d.
Data Hasil Observasi Aktivitas siswa pada Mata
Pelajaran Teknik Instalasi Listrik Dengan Penerapan Model Pembelajaran Talking
stick siklus II.
Tabel 4.8
Hasil
Observasi Aktivitas siswa Dalam Kelas Selama Mengikuti Proses Pembelajaran
Teknik Instalasi listrik Dengan Penerapan Model Pembelajaran talking stick pada
Siklus II.
|
No
|
Pengamatan
|
Frekuensi
Setiap
Pertemuan
|
|
|
I
|
II
|
||
|
1
|
Siswa
yang hadir pada saat proses pembelajaran berlangsung
|
28
|
28
|
|
2
|
Siswa yang memperhatikan pada saat guru
menjelaskan.
|
27
|
28
|
|
3
|
Siswa yang aktif bertanya dan menjawab dari
pertanyaan yang di ajukan guru.
|
8
|
9
|
|
4
|
Siswa yang
aktif berinteraksi dengan temannya dalam menyelesaikan tugas yang diberikan
guru.
|
23
|
24
|
|
5
|
Siswa
yang melakukan kegiatan lain pada saat pembahasan materi pelajaran
|
1
|
1
|
|
6
|
Siswa
yang masih perlu bimbingan dalam mengerjakan soal
|
18
|
16
|
|
7
|
Siswa
yang sering keluar masuk kelas pada saat pembelajaran berlangsung
|
1
|
|
Berdasarkan tabel 4.8 di atas dapat disimpulkan bahwa:
1) Pada
pertemuan I siswa yang hadir saat pelaksanaan proses pembelajaran sebanyak 28
siswa dari 32 siswa, berarti siswa yang tidak hadir sebanyak 4 orang. Pada
pertemuan II siswa yang hadir sebanyak 28 orang, berarti siswa yang tidak hadir
sebanyak 4 orang. Pada pertemuan ke III siswa yang hadir sebanyak 28 orang pada saat akan diadakan evaluasi dari
siklus II.
2) Pada lembar observasi yang kedua dan
ketiga menunjukkan bahwa siswa yang memperhatikan saat guru menjelaskan materi
mengalami peningkatan dari setiap pertemuan. Pada pertemuan I sebanyak 27 siswa yang memperhatikan saat guru
menjelaskan materinya, kemudian mengalami peningkatan pada pertemuan II yaitu 28 siswa.
3) Siswa yang aktif bertanya dan menjawab
pertanyaan yang diajukan guru, pada pertemuan I sebanyak 8 orang. Pada
pertemuan II mengalami peningkatan sebanyak
9 orang siswa.
4) Siswa yang aktif berinteraksi dengan
temannya dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru pada setiap pertemuan,
pada pertemuan I sebanyak 23 siswa, Pada
pertemuan II mengalami peningkatan sebanyak 24 siswa.
5) Siswa yang melakukan kegiatan di luar proses pembelajaran seperti
bermain, bercerita dan lain-lain pada pertemuan I sebanyak 1 siswa. Dan Pada pertemuan II masih sebanyak 1 orang
siswa.
6) Siswa
yang masih perlu bimbingan dalam mengerjakan soal pada pertemuan I sebanyak 18
siswa, sedangkan pada pertemuan II mengalami penurunan sebanyak 16 siswa.
7) Siswa
yang sering keluar masuk kelas pada saat pembelajaran berlangsung pada pertemuan I sebanyak 1 orang siswa,
sedangkan pada pertemuan II tidak terdapat ada siswa yang keluar masuk kelas
pada saat pembelajaran berlangsung.
B. PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa
penerapan model pembelajaran talking
stick pada mata pelajaran Teknik Instalasi Listrik telah berhasil
meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dilihat berdasarkan peningkatan hasil
belajar Teknik Instalasi Listrik dari siklus I dan siklus II siswa kelas X pada
Jurusan Teknik Ketenagalistrikan Di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto setelah
diadakan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran talking stick melalui dua siklus, Pernyataan ini didukung oleh hasil belajar siswa dimana siswa
mendapatkan nilai rata-rata pada siklus I sebesar 69,64 dan nilai rata-rata hasil belajar siswa
pada siklus II diperoleh sebesar 84,14. Hal ini juga dapat dilihat dari
pengkategorian berdasarkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) maka dari 28 siswa
berdasarkan hasil belajar teknik instalasi listrik siswa pada siklus I sebanyak 16 (57%) orang siswa masuk pada kategori tidak tuntas
dengan skor 0 hingga 74 sedangkan siswa
yang masuk kategori tuntas sebanyak 12 (43%) orang siswa dengan skor 75 hingga
100.
Berdasarkan hasil tes dari 28 siswa yang mengikuti
tes siklus II sebanyak 2 orang siswa
masuk kategori tidak tuntas atau
persentase sebesar 7% dan siswa
yang masuk kategori tuntas dari skor 75 hingga 100 sebanyak 26 siswa dengan
persentase sebesar 93%.
Berdasarkan hasil yang telah dicapai pada siklus I dan siklus II
yang telah dilaksanakan ketuntasan
belajar baru tercapai pada siklus II, hal ini dapat tercapai karena guru sudah dapat mengurangi ketegangan
siswa sehingga peserta didik dapat memahami materi pembelajaran dengan baik
sehingga siswa dapat termotivasi untuk
belajar dengan penerapan model pembelajaran talking
stick.
Berdasarkan hasil penelitian pada siklus II hasil belajar siswa dapat
dinyatakan telah berhasil, meningkatkan hasil belajarnya karena konsep yang
telah diberikan dapat diikuti oleh siswa dengan baik. Rendahnya hasil belajar teknik instalasi listrik siswa pada
siklus I disebabkan karena siswa belum siap untuk menerima tes dalam waktu yang
begitu singkat. Selain itu jam pelajaran teknik instalasi listrik didahului
dengan pelajaran praktikum sehingga siswa masih lelah dan kurang konsentrasi
dalam belajar. Terjadinya peningkatan hasil belajar pada siklus II itu
disebabkan karena guru sudah mendapat solusi dari kelemahan siklus I siswa juga
sudah siap dan mampu memahami materi dengan baik apalagi dengan model yang
diterapkan oleh peneliti mudah dipahami. Selain itu, siswa juga sangat tertarik
terhadap permainan-permainan (games) teknik instalasi listrik yang
diberikan.
Selain
itu, keaktifan siswa dalam mengikuti proses pambelajaran dari setiap pertemuan
terus meningkat. Hal ini dapat dilihat semakin banyaknya siswa yang bertanya
pada setiap pertemuan, siswa yang mencari solusi ketika diajukan pertanyaan
semakin meningkat, dan siswa yang mampu menyimpulkan pelajaran yang telah
berlangsung juga mengalami peningakatan pada setiap pertemuannya.
Setelah
diadakan perbaikan-perbaikan, secara umum dapat dilihat bahwa terdapat
perubahan sikap siswa terhadap tindakan-tindakan yang berkaitan dalam hal
positif. Sehingga penerapan model pembelajaran talking stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran Teknik instalasi listrik Jurusan
Teknik Ketenagalistrikan Di SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto.
Berdasarkan
data di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran talking stick dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran Teknik instalasi
listrik pada Jurusan Teknik Ketenagalistrikan Di SMK Negeri 8 Teknologi
Jeneponto.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penerapan model
pembelajaran talking stick yang prinsip kerjanya menitik beratkan pada
kerja sama antar siswa dalam mendiskusikan dan memahami materinya serta
interaksi siswa dengan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran telah dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran teknik instalasi listrik
siswa kelas X pada Jurusan Teknik Ketenagalistrikan Di SMK Negeri 8 Teknologi
Jeneponto ini dibuktikan dari hasil
penelitian yang telah dilaksanakan peneliti, sehingga di dapatkan skor rata-rata siswa sebesar 69,64 pada
siklus I dan terjadi peningkatan skor rata-rata sebesar 84,14 pada siklus II.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas
maka dikemukakanlah saran - saran sebagai berikut:
1. Kepada guru mata pelajaran teknik
instalasi listrik agar dapat menggunakan model pembelajaran talking stick
ini dalam proses belajar mengajar.
2. Kepada peneliti diharapkan mampu
mengembangkan model ini agar siswa lebih mudah memahami materi teknik instalasi
listrik yang diajarkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Anas,
Sudjono. 1995. Pengantar Evaluasi
Pendidikan. PT Rajawali Grafindo Persada. Jakarta.
Anonym. Model-model Pembelajaran. www.sd-binatalenta.com/images
Diakses pada tanggal 25 februari 2013
Arikunto, Suharsimi. 2002. Metodologi Penelitian. Rineka cipta:
Jakarta.
Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.
Darmawang. 2007. Strategi Pembelajaran Kejuruan. Badan Penerbit Universitas Negeri
Makassar. Makassar.
Daryanto.
2005. Evaluasi Pendidikan. Rineka
Cipta. Jakarta.
Deni Setiawan.
2006. Penanganan Belajar Siswa. UNES. Surabaya
Depdikbud.
2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Balai Pustaka. Jakarta.
Djamarah,
Bakri. 1995. Strategi Belajar Mengajar.
PT. Rineka Cipta. Jakarta.
Haling,
Abdul, 2006. Belajar dan Pembelajaran, Badan
Penerbit UNM. Makassar.
Hamalik,
Oemar. 2009. Kurikilum Dan Pembelajaran.
Cet V. PT Bumi Aksara. Jakarta.
Ishak,
Baego. 1988. Pengembangan dan Kurikulum.
Yayasan Al Ahkam. Ujung Pandang.
Kardi,
Soeparman. 2005. Pembelajaran Kooperatif.
UNES. Surabaya.
Majid,
Abdul. 2006. Perencaaan Pembelajaran.
Cet II. PT Raja Rosdakarya. Bandung.
Mannan,
Abul. 2008. Perencanaan Proses
Pembelajaran. Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar. Makassar.
Muhibbin
Syah. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Nasution,
S. 1995. Berbagai Pendekatan Dalam Proses
Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Sabri,
H. 2005. Strategi Belajar Mengajar.
Rineka Cipra. Jakarta.
Sagal, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajarn.Bandung:
Alfabeta.
Sahabuddin H. Dr. Prof, 2007. Mengajar dan Belajar. UNM. Makassar.
Salam,
Burhanuddin.2002.Pengantar Pedagogik
(Dasar-Dasar Ilmu Mendidik).Cet.I; Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Slameto, 2003. Belajar dan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta.
Sudjana,Nana.
2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
L
A
M
P
I
R
A
N
DAFTAR
HADIR SISWA KELAS X JURUSAN TEKNIK KETENAGALISTRIKAN DI SMK NEGERI 8 TEKNOLOGI
JENEPONTO
|
No
|
NAMA SISWA
|
KEHADIRAN
|
|
1
|
HERDYANTO
|
HADIR
|
|
2
|
RENALDI
R
|
HADIR
|
|
3
|
RAHMAN
AFANDI
|
HADIR
|
|
4
|
RUDI
SUHARTONO
|
HADIR
|
|
5
|
SAHWAL
G
|
HADIR
|
|
6
|
AMRAN
|
HADIR
|
|
7
|
NASRUDDIN
|
HADIR
|
|
8
|
FAISAL
|
HADIR
|
|
9
|
ERY
MUSTARI
|
HADIR
|
|
10
|
ANDIKA
|
HADIR
|
|
11
|
ISMAIL
AL MUBARAK
|
HADIR
|
|
12
|
SETIAWAN
|
HADIR
|
|
13
|
H.K.HABIBIH
SYAH
|
HADIR
|
|
14
|
RAHMAT
NUR
|
HADIR
|
|
15
|
WAHYUDI
NUR
|
HADIR
|
|
16
|
AGUS
SUPRIANTO
|
HADIR
|
|
17
|
JACKY
BAHAR
|
HADIR
|
|
18
|
AZHARI
|
HADIR
|
|
19
|
RISWANDI
|
HADIR
|
|
20
|
WAHYUDI
J
|
HADIR
|
|
21
|
SYAHRUL
MUBARAK
|
HADIR
|
|
22
|
FAJAR
WAHYU R
|
HADIR
|
|
23
|
ARDI
MAYANTO K
|
HADIR
|
|
24
|
ANDI
RISWANDI
|
HADIR
|
|
25
|
ABD.AZIS
|
HADIR
|
|
26
|
M.
MAHYUDIN
|
HADIR
|
|
27
|
AHMAD
BUDIMAN
|
HADIR
|
|
28
|
MUH.
ASHABUL KAHFI A
|
HADIR
|
HASIL BELAJAR SISWA KELAS X
JURUSAN TEKNIK KETENAGALISTRIKAN DI SMK NEGERI 8 TEKNOLOGI JENEPONTO SIKLUS I
|
NO
|
NAMA
|
SKOR
|
KATEGORI
|
UKURAN
|
|
1
|
Herdyanto
|
70
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
2
|
Renaldi r
|
80
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
3
|
Rahman afandi
|
95
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
4
|
Rudi suhartono
|
65
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
5
|
Sahwal g
|
65
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
6
|
Amran
|
70
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
7
|
Nasruddin
|
50
|
sedang
|
Tidak tuntas
|
|
8
|
Faisal
|
50
|
sedang
|
Tidak tuntas
|
|
9
|
Ery mustari
|
75
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
10
|
Andika
|
65
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
11
|
Ismail al mubarak
|
45
|
Rendah
|
Tidak tuntas
|
|
12
|
Setiawan
|
50
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
13
|
H.k.habibih syah
|
75
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
14
|
Rahmat nur
|
40
|
Rendah
|
Tidak tuntas
|
|
15
|
Wahyudi nur
|
95
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
16
|
Agus suprianto
|
65
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
17
|
Jacky bahar
|
70
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
18
|
Azhari
|
50
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
19
|
Riswandi
|
80
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
20
|
Wahyudi j
|
80
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
21
|
Syahrul mubarak
|
80
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
22
|
Fajar wahyu r
|
70
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
23
|
Ardi mayanto k
|
80
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
24
|
Andi riswandi
|
70
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
25
|
Abd.azis
|
75
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
26
|
M. Mahyudin
|
90
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
27
|
Ahmad budiman
|
90
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
28
|
Muh. Ashabul kahfi a
|
60
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
JUMLAH
|
1950
|
|
||
|
Rata-rata
|
69,64
|
|||
|
Standar Deviasi
|
14,84
|
|||
|
Tertinggi
|
95
|
|||
|
Terendah
|
40
|
|||
HASIL BELAJAR SISWA KELAS X
JURUSAN TEKNIK KETENAGALISTRIKAN DI SMK NEGERI 8 TEKNOLOGI JENEPONTO SIKLUS II
|
NO
|
NAMA
|
SKOR
|
KATEGORI
|
UKURAN
|
|
1
|
Herdyanto
|
75
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
2
|
Renaldi r
|
96
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
3
|
Rahman afandi
|
95
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
4
|
Rudi suhartono
|
81
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
5
|
Sahwal g
|
81
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
6
|
Amran
|
81
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
7
|
Nasruddin
|
86
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
8
|
Faisal
|
92
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
9
|
Ery mustari
|
85
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
10
|
Andika
|
84
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
11
|
Ismail al mubarak
|
85
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
12
|
Setiawan
|
96
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
13
|
H.k.habibih syah
|
92
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
14
|
Rahmat nur
|
42
|
Rendah
|
Tidak tuntas
|
|
15
|
Wahyudi nur
|
95
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
16
|
Agus suprianto
|
81
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
17
|
Jacky bahar
|
81
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
18
|
Azhari
|
84
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
19
|
Riswandi
|
83
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
20
|
Wahyudi j
|
73
|
Sedang
|
Tidak tuntas
|
|
21
|
Syahrul mubarak
|
96
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
22
|
Fajar wahyu r
|
83
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
23
|
Ardi mayanto k
|
92
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
24
|
Andi riswandi
|
85
|
Tinggi
|
Tuntas
|
|
25
|
Abd.azis
|
96
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
26
|
M. Mahyudin
|
82
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
27
|
Ahmad budiman
|
84
|
Tinggi sekali
|
Tuntas
|
|
28
|
Muh. Ashabul kahfi a
|
75
|
Tinggi
|
Tidak tuntas
|
|
JUMLAH
|
2356
|
|
||
|
Rata-rata
|
84,14
|
|||
|
Standar Deviasi
|
10,93
|
|||
|
Tertinggi
|
96
|
|||
|
Terendah
|
42
|
|||
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Nama Sekolah :
SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto
Mata Pelajaran :
Teknik Instalasi listrik
Kelas/Semester : X/ 2
(Dua)
Pertemuan Ke :
1
Alokasi Waktu :
2 x 45 menit
Standar Kompetensi : Memasang instalasi Penerangan
Listrik Bangunan Sederhana
Kompetensi Dasar : Memahami
instalasi penerangan 1 fase
Indikator :
1. Mengidentifikasikan
dan dijelaskan tentang denah, skala, letak titik beban
2.
Mengidentifikasikan
bahan dan alat pengaman instalasi penerangan 1 fase
3.
Menguasai
prinsip kerja dari peralatan instalasi penerangan 1 fase
I. Tujuan Pembelajaran :
a.
Peserta didik mampu mengidentifikasi dan menjelaskan tentang denah , skala, letak
titik beban
b.
Peser
didik mampu mengidentifikasi bahan dan alat pengaman instalasi 1 fase
c.
Peserta
didik mampu menguasai prinsip kerja dari peralatan dari instalasi penerangan 1
fase
II. Materi Ajar :
1.
Identifikasi tata letak
denah dan titik beban
2.
Komponen-komponen
instalasi penerangan listrik
3.
Puil 2000
III. Metode Pembelajaran : Model Pembelajaran Talking stick
IV. Langkah-langkah
Pembelajaran
A. Kegiatan Awal : Pengenalan materi dan
pengenalan model pembelajaran
B. Kegiatan Inti : a) Guru membentuk
kelompok yang terdiri atas 5 orang.
b) Guru menyiapkan
sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
c) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada setiap kelompok
untuk membaca dan mempelajari materi yang diberikan.
d)
Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
e) Setelah kelompok selesai membaca
materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok
untuk menutup isi bacaan.
f) Guru mengambil tongkat dan
memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi
pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus
menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian
untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
g) Siswa lain boleh membantu menjawab
pertanyaan jika anggota kelompoknya
tidak bisa menjawab pertanyaan.
h)
Guru memberikan kesimpulan.
i) Guru melakukan
evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu.
C. Kegiatan Akhir : menyimpulkan materi dan penutup
V SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
1. Puil 2000
2. Bakri Hasrul, 2009. Seri I
Pengantar intalasi listrik dan proteklsi untuk keselamatan.
3. http//:kumpulan donwload/Dunia Listrik - Tutorial Teknik Listrik, Artikel
dan Software Teknik.htm diakses pada tanggal 25 februari 2013
4. Media pembelajaran (LCD)
VI. Penilaian
1. Teknik penilaian
-
2. Bentuk Instrumen
-
Pilihan ganda dan observasi
3. Contoh instrumen
-
Instrumen pilihan ganda
MCB merupakan Singkatan dari……..
a. Miniature Circuit Breaker
b. MaksimumCircuit Breaker
c. Member Circuit Breaker
d. Miniature Common Breaker
e. Miniature Common Black
a. Miniature Circuit Breaker
b. MaksimumCircuit Breaker
c. Member Circuit Breaker
d. Miniature Common Breaker
e. Miniature Common Black
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Nama Sekolah :
SMK Negeri 8 Teknologi Jeneponto
Mata Pelajaran :
Teknik Instalasi Listrik
Kelas/Semester : X/ 2
(Dua)
Pertemuan Ke- :
2
Alokasi Waktu :
2 x 45 menit
Standar Kompetensi : Memasang
Instalasi Penerangan Listrik Bangunan Sederhana
Kompetensi Dasar : Menggambar
rencana instalasi penerangan
Indikator :
1.
Menguasai
prosedur perencanaan instalasi penerangan 1 fase
2.
Menguasai
prosedur pembuatan gambar rencana instalasi penerangan 1 fasa
I. Tujuan Pembelajaran :
a.
Peserta didik mampu menguasai prosedur perencanaan
instalasi
b. Peserta didik mampu mengusai prosedur pembuatan
gambar rencana instalasi penerangan 1 fase
II. Materi Ajar :
a.
Prosedur perencanaan
instalasi penerangan 1 fase
b.
Prosedur
pembuatan gambar rencana instalasi penerangan 1 fase
III. Metode Pembelajaran : Model Pembelajaran Talking stick
IV. Langkah-langkah
Pembelajaran
A. Kegiatan Awal : Pengenalan materi dan
pengenalan model pembelajaran
B. Kegiatan Inti : a) Guru membentuk
kelompok yang terdiri atas 5 orang.
b) Guru menyiapkan
sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
c) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada setiap kelompok
untuk membaca dan mempelajari materi yang diberikan.
d)
Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
e) Setelah kelompok selesai membaca
materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok
untuk menutup isi bacaan.
f) Guru mengambil tongkat dan
memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi
pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus
menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk
menjawab setiap pertanyaan dari guru.
g) Siswa lain boleh membantu menjawab
pertanyaan jika anggota kelompoknya
tidak bisa menjawab pertanyaan.
h)
Guru memberikan kesimpulan.
i) Guru melakukan
evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu.
C. Kegiatan Akhir : menyimpulkan materi dan penutup
V SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
1. Puil 2000
2. Bakri Hasrul, 2009. Seri I
Pengantar intalasi listrik dan proteksi untuk keselamatan.
3. http//:kumpulan donwload/Dunia Listrik - Tutorial Teknik Listrik, Artikel
dan Software Teknik.htm diakses pada tanggal 25 februari 2013
4. Media pembelajaran (LCD)
VI. Penilaian
1. Teknik penilaian
-
2.
Bentuk Instrumen
-
Pilihan ganda dan observasi
3.
Contoh instrumen
-
Instrumen pilihan ganda
Sebelum merancang
suatu instalasi penerangan listrik ada dua hal utama yang harus di perhatikan
yaitu……..
a. Gambar denah dan Skala
b. Gambar situasi dan diagram garis tunggal
c. Penilaian(assessment) dan Survei lokasi
d. Tata letak lampu dan sakelar
e. Fitting dan pemipaan
a. Gambar denah dan Skala
b. Gambar situasi dan diagram garis tunggal
c. Penilaian(assessment) dan Survei lokasi
d. Tata letak lampu dan sakelar
e. Fitting dan pemipaan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Nama Sekolah : SMK Negeri 8
Teknologi Jeneponto
Mata Pelajaran :
Teknik Instalasi Listrik
Kelas/Semester : X/ 2(Dua)
Pertemuan Ke- : 3 s/d 4
Alokasi Waktu :
2 x 45
menit
Standar Kompetensi : Memasang Instalasi Penerangan
Listrik Bangunan Sederhana
Kompetensi Dasar : - Memasang instalasi
penerangan diluar permukaan
-
Memasang instalasi
penerangan di dalam permukaan
Indikator :
1.
Memahami
metode pemasangan komponen instalasi di luar permukaan dan di dalam permukaan.
2.
Menjelaskan
tentang prosedur pengujian kualitas isolasi
3. Memahami prosedur kerja K3
I. Tujuan Pembelajaran :
a.
Peserta didik mampu
memahami metode pemasangan komponen instalasi di luar permukaan dan di dalam
permukaan
b.
Peserta
didik mampu Menjelaskan prosedur pengujian kualitas isolasi
c.
Memahami
Prosedur kerja K3
II. Materi Ajar :
a.
Instalasi penerangan di
luar permukaan dan di dalam permukaan
b.
Cara menggunakan alat
ukur megger
c.
Prosedur
III. Metode Pembelajaran : Model Pembelajaran Talking stick
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Awal : Pengenalan materi dan
pengenalan model pembelajaran
B. Kegiatan Inti : a) Guru membentuk
kelompok yang terdiri atas 5 orang.
b) Guru menyiapkan
sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
c) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada setiap kelompok
untuk membaca dan mempelajari materi yang diberikan.
d)
Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
e) Setelah kelompok selesai membaca
materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok
untuk menutup isi bacaan.
f) Guru mengambil tongkat dan
memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi
pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus
menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian
untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
g) Siswa lain boleh membantu menjawab
pertanyaan jika anggota kelompoknya
tidak bisa menjawab pertanyaan.
h)
Guru memberikan kesimpulan.
i) Guru melakukan
evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu.
C. Kegiatan Akhir : menyimpulkan materi dan penutup
V SUMBER DAN MEDIA
PEMBELAJARAN
1.
Puil
2000
2.
Bakri
Hasrul, 2009. Seri I Pengantar intalasi listrik dan proteklsi untuk
keselamatan.
3.
http//:kumpulan donwload/Dunia Listrik - Tutorial
Teknik Listrik, Artikel dan Software Teknik.htm diakses pada tanggal 25
februari 2013
4.
Media
pembelajaran (LCD)
VI. Penilaian
2.
Teknik penilaian
-
3.
Bentuk Instrumen
-
Pilihan ganda
dan observasi
4.
Contoh instrumen
-. Instrumen pilihan ganda
Pemasangan instalasi
di dalam permukaan (inbow) harus membuat ruangan/tempat dalam tembok yang
bertujuan untuk……..
a. Keamanan rangkaian
b. Agar komponen yang dipasang tidak mudah rusak
c. Aman dari jangkauan tangan
d. Memberikan tempat bagi komponen/bahan listrik yang akan di pasang
e. berfungsi lebih baik dan aman
a. Keamanan rangkaian
b. Agar komponen yang dipasang tidak mudah rusak
c. Aman dari jangkauan tangan
d. Memberikan tempat bagi komponen/bahan listrik yang akan di pasang
e. berfungsi lebih baik dan aman
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Nama Sekolah : SMK
Negeri 8 Teknologi Jeneponto
Mata Pelajaran : Instalasi Listrik Penerangan
Kelas/Semester : X/2 (Dua)
Pertemuan Ke- : 4
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
Standar Kompetensi :
Memasang Instalasi Penerangan
Listrik Bangunan Sederhana
Kompetensi Dasar : Memasang lampu penerangan termasuk instalasi
di dalam armatur lampu.
Indikator :
1.
Menjelaskan
mengenai metode pemasangan beban listrik
lampu instalasi
2.
Memahami
prosedur pengujian pembebanan daya listrik
3.
Memahami
prosedur K3
I. Tujuan Pembelajaran :
1.
Peserta
didik mampu menjelaskan metode pemasangan beban listrik lampu instalasi
2.
Peserta
didik dapat memahami pengujian pembebanan daya listrik
3.
Peserta
didik mampu memahami prosedur K3
II. Materi Ajar :
1.
Armartur penerangan,
fitting lampu lampu dan roset
2.
Pengujian daya listrik
3.
Prosedur K3
III. Metode Pembelajaran : Model Pembelajaran Talking stick
IV. Langkah-langkah
Pembelajaran
A. Kegiatan Awal : Pengenalan materi dan
pengenalan model pembelajaran
B. Kegiatan Inti : a) Guru membentuk
kelompok yang terdiri atas 5 orang.
b) Guru menyiapkan
sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
c) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada setiap kelompok
untuk membaca dan mempelajari materi yang diberikan.
d)
Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
e) Setelah kelompok selesai membaca
materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok
untuk menutup isi bacaan.
f) Guru mengambil tongkat dan
memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi
pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus
menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian
untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
g) Siswa lain boleh membantu menjawab
pertanyaan jika anggota kelompoknya
tidak bisa menjawab pertanyaan.
h)
Guru memberikan kesimpulan.
i) Guru melakukan
evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu.
C. Kegiatan Akhir : menyimpulkan materi dan penutup
V SUMBER DAN MEDIA
PEMBELAJARAN
1.
Puil 2000
2.
Bakri
Hasrul, 2009. Seri I Pengantar intalasi listrik dan proteklsi untuk
keselamatan.
3.
http//:kumpulan donwload/Dunia Listrik - Tutorial
Teknik Listrik, Artikel dan Software Teknik.htm diakses pada tanggal 25
februari 2013
4.
Media
pembelajaran (LCD)
VI. Penilaian
1.
Teknik penilaian
-
5. Bentuk Instrumen
- Pilihan ganda dan observasi
6.
Contoh instrumen
Instrumen pilihan ganda
Lampu
dalam ruang yang mengandung bahan atau debu yang mudah terbakar harus dipasang
dalam ……..
a. Armartur Penerangan kedap air
b. Fitting tusuk
c. Armartur penerangan kedap debu
d. Armartur penerangan yang menpunyai terminal
e. Fitting bayaonet
a. Armartur Penerangan kedap air
b. Fitting tusuk
c. Armartur penerangan kedap debu
d. Armartur penerangan yang menpunyai terminal
e. Fitting bayaonet
Berilah tanda silang (X) pada salah satu
jawaban a, b, c, d, dan e. jika dianggap benar
1. Sebuah rumah memasang instalasi Listrik 900 VA, maka
MCB yang digunakan sebagai pengaman/pembatas beban terpakai adalah….
a.
1 A d.
6 A
b.
2 A e.
10 A
c.
4 A
2. Komponen
yang berfungsi untuk menyambung antara kabel grounding
dari titik satu dengan titik yang lainnya atau biasa disebut (Pararel Grounding)
ialah….
a. Klem Kuku macan d.
Konektor Cincin
b. Conduite e.
Rod
c. Skun Cable
3. Instalasi listrik harus di pasang tampak
rapih/indah (tidak menganggu pemandangan) merupakan syarat dari.
a. Syarat keamanan
a. Syarat keamanan
b. Keandalan
c. Mutu terjamin,
d. Ketercapaian
c. Mutu terjamin,
d. Ketercapaian
e. Keindahan
4. Dalam
merancang instalasi listrik, faktor-faktor utama yang harus diperhatikan adalah:
a. Keselamatan
manusia, ternak dan keamanan harta benda
b. Penempatan
sakelar
c. Penghantar
d. Mengurangi terjadinya penurunan tegangan
e. Mengurangi lama waktu padam akibat adanya gangguan pada panel
c. Penghantar
d. Mengurangi terjadinya penurunan tegangan
e. Mengurangi lama waktu padam akibat adanya gangguan pada panel
5. Sebelum
merancang suatu instalasi penerangan listrik ada dua hal utama yang harus di
perhatikan yaitu……..
a. Gambar denah dan Skala
b. Gambar situasi dan diagram garis tunggal
c. Penilaian (assessment) dan Survei lokasi
d. Tata letak lampu dan sakelar
e. Fitting dan pemipaan
a. Gambar denah dan Skala
b. Gambar situasi dan diagram garis tunggal
c. Penilaian (assessment) dan Survei lokasi
d. Tata letak lampu dan sakelar
e. Fitting dan pemipaan
6.
Kabel NYAF 16 mm biasanya digunakan
dalam pemasangan instalasi internal protection
(Surge Arrester Listrik) sebab memiliki kelebihan….
a. Fleksibel
b. Mudah disambung
c. Tahan panas
d. Memiliki isolator/pembungkus tembaga
e. Mudah pemasangannya
b. Mudah disambung
c. Tahan panas
d. Memiliki isolator/pembungkus tembaga
e. Mudah pemasangannya
7. Alat
yang digunakan untuk mengukur serta menguji besarnya nilai tahanan isolasi
kabel listrik adalah
a. Megger
b. Watt Meter
c. Ohm Meter
d. Tang Amper
e. KWH Meter
a. Megger
b. Watt Meter
c. Ohm Meter
d. Tang Amper
e. KWH Meter
8. Salah
satu fungsi/kegunaan dari MCB ialah….
a. Memutuskan listrik apabila terjadi hubung singkat
b. Menambah tegangan
c. Memperbaiki factor kerja
d. Sebagai hambatan
e. Mengukur Tegangan
a. Memutuskan listrik apabila terjadi hubung singkat
b. Menambah tegangan
c. Memperbaiki factor kerja
d. Sebagai hambatan
e. Mengukur Tegangan
9. Besarnya tegangan yang
menghasilkan sengatan arus listrik beresiko fatal salah satunya di sebabkan
oleh…..
a.
Resistansi dari kulit
b. Posisi berdiri
c. tahanan tubuh kecil
d. Pengaruh suhu
e. Jenis kabel
b. Posisi berdiri
c. tahanan tubuh kecil
d. Pengaruh suhu
e. Jenis kabel
10. Komponen yang berfungsi sebagai tempat
penyambungan atau percabangan hantaran listrik pada instalasi ialah ……
a. T-dos
b. Sakelar
c. Fitting
d. PHB
e. Pipa
a. T-dos
b. Sakelar
c. Fitting
d. PHB
e. Pipa
11. Pemasangan
instalasi di dalam permukaan (inbow) harus membuat ruangan/tempat dalam tembok
yang bertujuan untuk……..
a. Keamanan rangkaian
b. Agar komponen yang dipasang tidak mudah rusak
c. Aman dari jangkauan tangan
d. Memberikan tempat bagi komponen/bahan listrik yang akan di pasang
e. berfungsi lebih baik dan aman
a. Keamanan rangkaian
b. Agar komponen yang dipasang tidak mudah rusak
c. Aman dari jangkauan tangan
d. Memberikan tempat bagi komponen/bahan listrik yang akan di pasang
e. berfungsi lebih baik dan aman
12. Lampu
dalam ruang yang mengandung bahan atau debu yang mudah terbakar harus dipasang
dalam ……..
a. Armartur Penerangan kedap air
b. Fitting tusuk
c. Armartur penerangan kedap debu
d. Armartur penerangan yang menpunyai terminal
e. Fitting bayaonet
a. Armartur Penerangan kedap air
b. Fitting tusuk
c. Armartur penerangan kedap debu
d. Armartur penerangan yang menpunyai terminal
e. Fitting bayaonet
13. MCB
merupakan Singkatan dari……..
a. Miniature Circuit Breaker
b. MaksimumCircuit Breaker
c. Member Circuit Breaker
d. Miniature Common Breaker
e. Miniature Common Black
a. Miniature Circuit Breaker
b. MaksimumCircuit Breaker
c. Member Circuit Breaker
d. Miniature Common Breaker
e. Miniature Common Black
14. Mengukur
tahanan isolasi kabel listrik serta
berfungsi untuk mengetahui terjadinya hubung singkat pada suatu rangkaian
merupakan fungsi dari …….
a. Watt Meter
b. Volt Meter
c. Earth tester
d. Megger
e. Tang Amper
a. Watt Meter
b. Volt Meter
c. Earth tester
d. Megger
e. Tang Amper
15. Penghantar yang terdiri dari
beberapa urat kawat dengan ukuran 1 mm2 – 500 mm2 ialah…..
a.
Persegi
- berlilit
- Serabut
- Fleksibel
- Pejal
a. a
= 3; b = 3
b. a = 4; b = 4
c. a = 4; b = 5
d. a = 5; b = 5
e. a = 5; b = 6
b. a = 4; b = 4
c. a = 4; b = 5
d. a = 5; b = 5
e. a = 5; b = 6
17. Kabel yang dapat menghantarkan dua aliran(dua
fasa yang berbeda atau fasa dengan netral ) merupakan fungsi dari
penghantar …
a. Simplex
b. Duplex
c. Triplex
d. Quadruplex
e. Serabut
a. Simplex
b. Duplex
c. Triplex
d. Quadruplex
e. Serabut
18. Sakelar
yang berfungsi menghidupkan dan mematikan satu buah lampu atau satu kelompok
dari dua tempat yang berbeda merupakan fungsi dari sakelar
a. Sakelar Tunggal
b. Sakelar Tukar
c. Sakelar Silang
d. Sakelar Kutup Dua
e. Sakelar Kutup Tiga
b. Sakelar Tukar
c. Sakelar Silang
d. Sakelar Kutup Dua
e. Sakelar Kutup Tiga
19. Kabel
yang dapat berfungsi untuk menghantarkan satu macam penghantar saja disebut penghantar…
a. Berlilit
a. Berlilit
b.
Simplex
c.
Triplex
d.
Duplex
e.
Quadruplex
20. Untuk
menghubungkan dan memutuskan arus listrik dari sumber ke beban merupakan
fungsi dari…..
a. MCB
b. NFB
c. Sakelar
d. PHB
e. T-dos
a. MCB
b. NFB
c. Sakelar
d. PHB
e. T-dos
21. Komponen
listrik atau tempat menghubungkan lampu dengan kawat penghantar merupakan
fungsi dari…
a. T-dos
b. Fitting
c. Sakelar
d. Kotak Sambung
e. Sakelar silang
a. T-dos
b. Fitting
c. Sakelar
d. Kotak Sambung
e. Sakelar silang
22. Peralatan yanmg berfungsi Menerima energi
listrik dari APP atau dari sumber energi lain ialah……
a. PHB
b. Sakelar
c. Fitting
d. Kotak Sambung
e. Kruis dos
a. PHB
b. Sakelar
c. Fitting
d. Kotak Sambung
e. Kruis dos
23. Jenis sambungan dalam kotak sambung/T-dos
pada instalasi listrik umumnya menggunakan sambungan …
a. Simpul
b. Ekor babi
c. Cabang datar
d. Turn back
e. Western union
a. Simpul
b. Ekor babi
c. Cabang datar
d. Turn back
e. Western union
24. Peralatan
yang berfungsi sebagai tempat membagi dan menyalurkan tenaga listrik ke beban
yang memerlukan agar merata dan seimbang ialah ……
a. Kabel
b. PHB
c. Sakelar
d. NFB
e. Fitting
25. Sakelar yang dapat mengontrol dua buah lampu atau mengendalikan dua
kelompok lampu secara bersamaan atau bergantian merupakan fungsi dari sakelar….
a. Sakelar
Tukar
b. Sakelar
Seriu/deret
c. Sakelar
Tunggal
d. Sakelar
Silang
e. Sakelar
Kutup Dua
26. Bila
ditinjau dari konstruksinya fitting dibagi menjadi dua jenis yaitu…..
a. Fitting Ulir dan Fitting
Edison
b. Fitting Ulir dan Fitting
Tusuk
c. Fitting Tusuk dan Fitting
Bayonet
d. Fitting Goliath dan Fitting
Ulir
e. Fitting Tusuk dan Fitting
Edison
…SELAMAT
BEKERJA…
RIWAYAT
HIDUP PENULIS
Kamal,
Lahir di Jeneponto pada tanggal 08 Agustus 1990 anak Pertama dari Pasangan Gama dan Hatijah. Pendidikan formal
Dimulai sejak tahun 1998 pada SD Inpres 144 Sarroaging, Desa Sapanang Jeneponto
dan tamat tahun 2004.
Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMP
Negeri 4 Binamu Jeneponto dan tamat tahun 2007. Setelah itu penulis melanjutkan
pendidikan di SMK Negeri 8 Jeneponto dan tamat tahun 2010. Kemudian penulis
melanjutkan pendidikan pada Program
Studi Pendidikan Teknik Elektro (S1) Jurusan Pendidikan Teknik Elektro,
Fakultas Teknik Universitas Negeri
Makassar melalui program Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK C) atau lebih
dikenal program beasiswa bidik misi dan
tamat pada tahun 2013 dengan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar